Strategi Pemasaran Produk yang Mengedepankan Kualitas

STRATEGI PEMASARAN PRODUK

Strategi pemasaran produk yang mengedepankan kualitas ini menggunakan pendekatan pada produk itu sendiri. Oleh sebab itu, dituntut kalau pelaku usaha harus mampu berpikir kreatif dan inovatif.

Tapi…. sebelum jauh, ada yang harus kamu tahu…. produkitu tak selalu berupa barang, tapi bisa berupa jasa…. Jadi,jangan berpatokan kalau inovatif harus dalam berupa barang. Bahkan, memberikan pelayanan baru yang melebihi ekspektasi pelanggan saja sudah bentuk inovasi juga lhoh!

Oke, selebihnya coba kita ulas

1. Strategi Pemasaran Produk yang menarik komsumen sebagai endorser gratis

Jika pada sub bab mencari tempat usaha yang strategis saya sempat membahas tentang lokasi yang memiliki venue dan dekorasi unik serta menarik untuk didokumentasikan, kali ini saya akan membahas produknya…

Tampilan produk yang merangsang untuk didokumentasikan….

Kali ini sedikit berbeda dengan bahasan foto produk yang saya bahas di bagian strategi menggunakan sosial media…

Dalam bab tersebut,, yang melakukan foto produk adalah kita atau bantuan fotografer profesional…

Sementara kali ini yang menggambil gambar adalah konsumen, lalu menguploadnya melalui sosial media atau juga bisa menceritakannya melalui blog (Food blogger atau travel blogger)

Dengan begitu, secara otomatis kamu memperoleh endorser yang merekomendasikan produkmu secara gratis…. Ini contohnya!

endorser gratis

Itu hanya berlaku untuk makanan?

Tidak juga…. fashion, aksesoris, atau produk lainnya pun juga bisa….

Pasti pernah suatu ketika saat temanmu mengupload foto di sosial media lalu ada yang memberi komentar begini,

Sepatunya bagus, Beli dimana ya sepatunya?

2. Hadirkan produk unik dan terus berinovasi

Membuat inovasi berupa produk unik bisa melesatkan omset penjualanmu dengan cepat!

Ada beberapa karakteristik konsumen mengapa bisa menyebabkan omset penjualan naik dengan cepat,

  • Konsumen mudah bosan dengan hal biasa atau umum
  • Mereka cenderung lebih tertarik dengan sesuatu yang berbeda dari produk sejenis kebanyakan
  • Para pelanggan cenderung memiliki ketertarikan pada hal yang baru
  • Konsumen cenderung mengikuti suatu hal baru yang sedang viral atau trend dan ingin segera mencoba

Dan…. membuat inovasi tak selalu membuat produk yang benar-benar baru…. terkadang, membuat produk yang terasa baru sudah cukup….

Dan usahakan menjadi yang pertama (Tapi, inovasi memang cenderung yang pertama)

….sebab, sesuatu yang pertama akan cenderung terus diingat oleh konsumen…. dan kedua, ketiga, serta kesekian kali yang mengikuti inovasinya belum tentu bisa ikut diingat dan berjaya….

Pernah menonton film Three Idiot?

  • Saat adegan Pak Rektor bertanya “Siapa orang yang pertama kali ke bulan?”
  • Seorang Mahasiswa menjawab “Neil Amstrong”
  • Lalu, Pak Rektor kembali bertanya, “Lalu siapa yang kedua?”
  • Dan semuanya terdiam… Masuk akal kan terkait membuat inovasi produk sebagai orang yang pertama?

Sebagai contoh,

Di kota Malang terdapat banyak ragam kuliner, salah satunya adalah kuliner mie…

Jika berbicara mie, pasti ya begitu-begitu saja, pangsit mie, mie ayam, dan mie instan….

Sekitar di tahun 2011, ada sebuah inovasi baru yang memodifikasi mie…. Kita mengenalnya dengan nama Mie Setan

Inovasinya simpel, hanya menambahkan rasa pedas tapi memiliki level….

Semakin tinggi levelnya, maka jumlah cabainya semakin banyak dan rasanya semakin pedas…..

Dan inovasi tersebut memberikan dampak penjualan luar biasa, bahkan pembeli sering sampai harus mengantri panjang….

Sejak saat itu, Mie dengan level menjadi trend, dan mulailah berdiri satu-persatu kuliner mie sejenis dengan nama yang berbeda….

Tapi apa yang terjadi, banyak diantara mereka tak dapat bertahan lama… kalah bersaing, dan tutup….

…..Dalam sub judul bab ini, saya memberi tambahan terus berinovasi…. Maksud dari kata tersebut, meski usahamu nanti bisa berjalan, tapi sebaiknya teruslah lakukan inovasi agar usahamu tidak berjalan mundur….

Inovasi yang tepat adalah inovasi yang berjalan selaras dengan trend saat ini….

Ada sebuah pepatah dalam dunia bisnis,

Tidak mengikuti trend sama dengan bunuh diri

Dan, pepatah tersebut sudah terbukti nyata dan dialami oleh salah satu raksasa ponsel dunia, Nokia….

Siapa itu Nokia?

Mantan raksasa dalam dunia telepon seluler….

Bahkan…. dulu….. saat masih jaya-jayanya, setiap ada pertanyaan mencari handphone yang bagus pasti hampir sebagian orang menjawab merk Nokia…

Lalu, apa yang terjadi? Nokia seolah mati….

Mengapa? Apakah Nokia tidak melakukan inovasi?

Bukan…. Nokia tetap melakukan inovasi, bahkan terkenal dalam melakukan inovasi dari handphone satu ke handphone lainnya….

Hanya saja, Nokia bisa dibilang terlambat mengikuti trend inovasi tersebut…. Terutama di atas tahun 2000an

Ketika persaingan semakin ketat dengan munculnya Blackberry, Apple yang meluncurkan sistem operasi iOS, dan google yang meluncurkan sistem operasi ponsel pintar (Android)…. dimana sistem operasi iOS dan Android, pada akhirnya lebih disukai oleh pengguna…. Nokia justru tetap bertahan dengan sistem operasi Symbian miliknya yang dianggap kurang dinamis….

Penjualan Nokia terus turun dan nilai sahamnya terus terjun bebas, hingga pada september 2013 raksasa internet dunia, Microsoft mengakuisisi Nokia…. sebagai tanda runtuhnya kejayaan Nokia yang oleh sebagian orang dianggap hal yang mustahil….

3. Kualitas adalah ratu

Jika ada istilah pembeli adalah raja,maka kualitaslah yang jadi ratunya….

Hanya ratu yang bisa memikat sang raja…..

….begitu pula, hanya kualitas yang bisa memikat bahkan mengikat pembeli….

Sebaik apapun promosi yang kamu lakukan, pada kenyataannya pembeli tidak akan kembali jika kualitas yang kamu berikan lebih rendah dengan harga yang mereka bayar….

Sebaliknya, tanpa dipaksa mereka akan loyal pada produkmu jika kualitas yang kamu berikan sama dengan atau justru lebih dari harga yang mereka bayar….

Ini serius….

Kualitas produk, kualitas tempat, sampai kualitas pelayanan pasti akan memberi kesan yang melekat bagi konsumennya….

Bahkan kualitas penjaga parkir sekalipun mendapat penilaian tersendiri di mata konsumen untuk pengambilan keputusan akan kembali atau tidak….

Pertengahan 2016, terjadi banyak komplain kepada pemerintah Kota Malang terkait ulah para jukir (juru parkir) yang nakal, menarik tarif parkir melebihi dari standar yang telah ditetapkan, bahkan sampai dua kali lipatnya….

Parkir tidak dijaga, tidak ditata, baru saat hendak keluar area parkir para jukir nakal itu meniup peluit lalu meminta bayaran tarif melebihi standar….

Dari banyak komplain yang saya baca melalui sosial media, bahkan ada sebagian yang menjadi malas untuk pergi ke toko/tempat makan/tempat wisata/usaha yang jukirnya nakal…. padahal, tempat-tempat tersebut tak punya salah apa-apa….

Sebaliknya, mereka mengapresiasi jukir yang taat aturan, baik, bahkan bersedia menata dan menyeberangkan jalan…. dampaknya, mereka memberi kesan nyaman dan ada kemungkinan kembali ke toko/tempat usaha tersebut….

Kamu bisa lihat kan dampaknya, jadi…. jangan sekali-kali menyepelekan masalah kualitas baik dari yang ada di ruang lingkup usahamu maupun di sekitarnya…..

Sebab…. jika kualitas yang kamu berikan buruk, dan ada usaha sejenis yang berani memberikan kualitas lebih baik….. maka bersiap-siaplah, pelangganmu akan berpindah pilihan, seloyal apapun label pelangganmu tadinya…..

Tidak percaya?

Baru-baru ini, di kota Malang ada demo dari sopir angkutan kota yang menentang adanya ojek online…. Berbeda dari kota lain yang cenderung sampai terjadi bentrok…. Di Malang tidak sampai seperti itu, karena pemerintah Kota menganggap ojek online masih belum dibutuhkan….. Dan operasinya dihentikan (diluar masalah perijinan)

Tapi, siapa yang melayangkan keberatan dan protes?

Konsumen, bukan dari pihak ojek online….. mereka menganggap kualitas ojek online sesuai dengan apa yang mereka bayar….

….bahkan, semakin banyak yang mengungkap kalau banyak yang meninggalkan angkutan kota lantaran kualitas yang dipandang buruk yang mereka berikan….

Seperti menarik tarif lebih dari standar dan melakukan ngetime (berhenti menunggu penumpang) dalam waktu yang lama…. Bahkan, perjalanan yang seharusnya hanya 45 menit bisa jadi sampai dua jam perjalanan…..

Dari kasus di atas, menjelaskan kalau konsumen saat ini sudah cerdas dalam menentukan pilihan yang berkualitas…. Bahkan, jika kualitasnya buruk mereka tak segan-segan memberikan komplain dan meninggalkannya….

Dan kamu tahu…. komplain terburuk bagi perusahaan adalah komplain yang disampaikan melalui media online…. Karena mudah dibaca banyak orang (saat ini)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca artikel komplain ketidak puasan dari salah satu pelanggan kepada perusahaan yang bergerak dibidang layanan pernikahan seperti souvenir dan lainnya….Dan komplain tersebut disampaikan secara online melalui situs kompasiana dengan judul Kami kecewa dengan De Tanjung yang diterbitkan pada tahun 2013.

Kamu bisa bayangkan bagaimana dampak buruk bagi reputasi usahamu jika ada komplain secara online yang bisa dibaca siapa saja…. Parahnya lagi, jika yang menyampaikan ketidak puasan adalah seorang influencer, atau mereka yang memiliki banyak pengikut (follower)

Seperti ketidak puasan yang pernah dialami oleh Mas Agus Muyadi (Oleh beberapa blogger dianggap sebagai blogger sukses) tentang warung sate dan pernah ditulis dalam blog pribadinya…. Dalam tulisannya dia menceritakan rasa kekecewaannya atas kualitas pelayanan si penjual sate….

Sekarang, bagaimana dampaknya jika ketidakpuasan itu oleh follower mas Agus Mulyadi dianggap rekomendasi buruk dari si pemilik blog?

Selain mas Agus Mulyadi yang enggan kembali membeli di sana dan¬† reputasi buruk, penjualan juga bisa menurun….

Jika kualitas buruk bisa memberi rekomendasi buruk, tapi kualitas yang baik tentu bisa memberikan reputasi yang baik

Pasti kamu banyak melihat di sosial media online shop-online shop melakukan upload testimoni dari pelanggan, seperti ini….

contoh testimoni pelanggan

Selain memberikan dampak positif berupa loyalitas konsumen yang merasa puas, juga bisa meningkatkan daya beli calon konsumen karena merasa percaya setelah ada orang lain yang merasa puas terhadap kualitas yang diberikan….

4. Mengikuti selera konsumen

Konsumen adalah raja…. dan mengikuti apa keinginan raja tidak ada salahnya….

Tapi…. sebagai bidang usaha rajamu adalah banyak…. benar kan?

Apa kamu akan mengikuti selera mereka semua yang berbeda-beda?

Tentu tidak bisa kan?

Pasti, selera konsumen yang akan kita penuhi adalah yang mayoritas….

Sekarang, bagaimana kita bisa tahu mana yang mayoritas?

Itulah fungsinya survey pasar….

Survey pasar dengan target konsumen bukanlah hal yang rumit….

Memang…. ada rumus dan aplikasi statistika tersendiri (contoh:SPSS) untuk menganalisanya…

Tapi, karena tidak semua orang memahami hal itu saya akan membagikan cara yang sederhana….

Kunci di awal adalah kamu harus menyediakan atribut sebanyak-banyaknya terkait produkmu….

Apa itu atribut?

Atribut adalah unsur-unsur yang dianggap penting terkait produk atau usahamu….

Contohnya begini, kamu memiliki usaha  keripik singkong, maka atributnya adalah seperti ini

  • Varian Rasa
  • Bentuk
  • Kemasan
  • Ukuran
  • Tanggal kadaluarsa
  • Kode produksi
  • BPOM
  • Sertifikasi halal MUI
  • dll

Setelah itu, kamu buat tabel survey yang nantinya akan diisi oleh orang-orang yang kemungkinan akan menjadi konsumenmu, atau bisa juga yang sudah jadi konsumenmu….

Dengan kriteria penilaian sebagai berikut,

  • Sangat tidak penting dengan skor = 0
  • Tidak penting dengan skor = 1
  • Ragu-ragu dengan skor = 2
  • Penting dengan skor = 3
  • Sangat penting dengan skor = 4

Contoh tampilan surveynya seperti ini, nanti kamu bisa membuatnya di program excel….

Contoh survei atribut konsumen

 

Penutup

Bisa jadi, masih ada pengembangan tentang strategipemasaran produkini…. Kamu bisa menambahkannya melalui kolom komentar jika tahu dan ingin berbagi

Niam Ansori

Saat ini saya sedang menggeluti beberapa bisnis. Saya akan membagikan apa yang sudah saya pelajari dan saya terapkan kepada pembaca blog Rintisan.Net, sehingga panduannya jadi lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *